Waspada Hoax di Tahun Politik

0
235

Dalam pemilihan kepala daerah semestinya tidak perlu lagi menyebarkan hoax, fitnah dan SARA. Demokrasi yang baik, yang kita harapkan tentunya adu program dan menjadikan rakyat sebagai raja, bukan sebaliknya. Kita harus mengingat betul bahwa kemerdekan Indonesia bukanlah milik satu agama manapun, juga bukan milik suku manapun, Indonesia lahir dari cita-cita bersama untuk berdaulat, tanpa membedakan apapun.

Sehingga dalam mengkampanyekan bukan lagi fitnah, hoax dan berita palsu. Namun, apabila dalam pilkada 2018, isu hoax kembali dimainkan oleh orang yang yang tidak bertanggung jawab, maka tidak menutup kemungkinan isu hoax akan kembali menjadi senjata dalam melumpuhkan lawan. Bila ini terjadi, maka Demokrasi kita berjalan mundur, karena yang kita cari hanya menang, bukan memenangkan hati rakyat.

Oleh karena itu, kita harus terus menerus menyebarkan informasi kepada masyarakat akan pentingnya persatuan dan kesatuan. Boleh berbeda, tetapi tidak perlu menjadi pemisah. Boleh berbeda tapi tidak perlu menjadi mencari perbedaan. Tentunya, di antara pemisah dan perbedaan pastinya masih ada sesuatu yang kita bisa samakan, yaitu Indonesia yang damai.

Sadarkah kita, bahwa dengan bersatupadu semua kemelut dan permasalahan bangsa ini dapat teratasi dengan baik, setidaknya dengan kita bergotong royong dalam segala hal, sama halnya kita membantu Pemerintah Indonesia dalam mengatasi masalah. Sikap ego sektoral dan primordial harus kita kikis, kalau kita menyadari akan pentingnya kebersamaan dan kebhinnekaan.

Tahun politik semakin dekat, literasi perdamaian harus terus kita gaungkan agar lebih bergema, guna membentengi masyarakat dari segala isu hoax yang memang sengaja di desain untuk memecah belah anak bangsa, mengadu domba, memaksa masyarakat untuk terus membaca isu hoax tujuan akhirnya adalah kekisruhan terjadi dimana-mana, saling tidak percaya, saling merasa menang sendiri, mengakibatkan kerugian buat kita semua.

Dalam hal ini, kita butuh jiwa legowo untuk saling menerima segala perbedaan apapun. Oleh karena itu, perlunya filter dalam berbagai hal, misalkan, menerima broadcast, tidak perlu meneruskan kepada orang lain, cukup berhenti di anda. Apabila anda tidak lagi memfilter semua informasi, sama halnya kita ikut menyebarkan hoax, padahal kita sendiri hanya meneruskan informasi yang belum tentu kebenarannya.

Mengutip ungkapan Prof Sumanto Alqurtuby (aku.dutadamai.id) “ada tiga mitos yang berkembang di Indonesia dewasa ini, salah satunya adalah mitos Muslim – Kristen selalu digaungkan oleh kelompok yang memiliki agenda politik di Indonesia. Pada akhirnya adalah kekuasaan semata”. Dalam pemilihan kepala daerah, mitos tersebut selalu dijadikan alat untuk mempengaruhi masyarakat mendapatkan simpati masyarakat.

Pemilihan kepada daerah hendaknya menghindari isu yang mengancam persatuan dan kesatuan, tidak diperbolehkan dengan mengambil isu memperuncing keadaan. Tentunya, ini patut kita sayangkan. Adu program seyogyanya perlu ditingkatkan, bukan adu domba yang dipertajam, bila hal ini masih digunakan oleh tim sukses salah satu calon, maka tidak menutup kemungkinan, semua akan terjadi dalam setiap pemilihan kepala daerah. Luka dalam politik, diperlukan waktu sangat lama, untuk menyembuhkannya, luka belum sembuh, pemilihan kepala daerah sudah didepan mata.

Melawan Hoax, Dengan Membaca

Patut di duga ada pihak yang ingin memecah belah bangsa ini, hal itu dapat dilihat dari kasus tertangkapnya pelaku penyebar konten negatif dan memfabrikasi konten hoax, disinyalir kelompok ini dibayar dengan puluhan juta, dengan taruhan persatuan dan kesatuan bangsa. Gerakan ini mengancam keutuhan bangsa, menghancurkan etika dalam bergaul dengan sesama. Bagaimana tidak, ketika hoax ini dijadikan sebagai berita yang benar, padahal berita itu palsu. Sangat jelas, gerakan ini hanya untuk memperkeruh situasi negara yang sedang maju dalam hal infrastruktur.

Hoax memang harus dilawan bersama-sama, bukan perorangan, tetapi semua elemen bangsa harus bahu membahu melawan ketidakbenaran informasi. Mengutip tulisan Ignatius Haryanto, Imbangi Hoax dengan Tradisi Baca, (Kompas 14/9) Hoax itu sulit dilawan, ketika sebuah sumber produksi hoax ditutup, akan mudah menciptakan yang baru dan seterusnya, apalagi ketika hoax itu didasari motif ekonomi dan politik. Karena itu yang lebih perlu dikembangkan adalah kembali ke dasar, kembali ke tradisi membaca sebagai upaya mengimbangi fenomena hoax yang menyesatkan.

Pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa hoax tidak bisa dimusnahkan, kegiatan tersebut akan terus menerus menghiasi sosial media kita. Banjir informasi hoax di tahun politik menjadi tantangan besar, bagi kita dan Pemerintah dalam mensterilkan informasi palsu yang akan membanjiri masyarakat.

Carut marut informasi adalah target kelompok tersebut yang menginginkan masyarakat terbelah. Untuk itu, peran masyarakat dalam melaporkan konten negatif, Hoax, SARA, penipuan atau perdagangan ilegal, narkoba, perjudian dan radikalisme dapat melaporkan dengan mengirimkan screen capture disertai url link, kemudian mengirimkan data ke aduankonten@mail.kominfo.go.id.

Kendali paling utama dalam menangkal konten negatif, Hoax, SARA, penipuan atau perdagangan ilegal, narkoba, perjudian dan radikalisme adalah diri kita masing-masing. Dengan membaca, informasi yang kita terima tidak langsung disebar, tetapi kita baca dan kita cari sumbernya. Seringkali kita, ketika mendapatkan broadcasting langsung disebar, tanpa sedikit mengkroscek berita yang kita terima, sama saja kita menjerumuskan teman kita dengan informasi palsu. Oleh karena itu, saring sebelum sharing adalah sikap bijak dewasa ini. Bukan begitu!