Generasi Muda, Estafet Bangsa di Tangan Anda

0
362

Menurut para peneliti sosial, generasi Y atau Millennials lahir pada rentang tahun 1980an hingga 2000an. Bisa dikatakan, generasi millennial ini adalah anak-anak muda yang saat ini berusia antara 15-35 tahun.

Generasi digital ini, diharapkan mampu membawa pesan perdamaian. Mengingat usia produktif, dengan darah muda yang masih menggebu-gebu, hendaknya menjadi peluru untuk menyebarkan pesan positif untuk Indonesia yang lebih baik.

Paham radikalisme disinyalir kuat masuk di kampus dan sekolah melalui media sosial, karena media ini mampu menembus ruang privat sekalipun, menyasar generasi millienial yang masih rapuh benteng keimanannya. Oleh karenanya, hal itu menjadi catatan penting bagi kita semua, agar tidak menjadikan media sosial sebagai tempat menyemai kebencian, tetapi diharapkan mampu menyuburkan nilai-nilai penguatan keragaman yang dimiliki oleh Indonesia.

Seperti dikutip dalam laman jalandamai.org, menurut praktisi hukum Dr. Suhardi Somomoeljono, SH, MH, di Indonesia saat ini medsos belum sama sekali berfungsi sebagai alat perekat yang memperkuat sendi-sendi kenegaraan dalam penguatan Pancasila sebagai idiologi negara. Sebaliknya justru sangat subur dimanfaatkan untuk mengimpor paham-paham yang bersifat radikalisme yang berasal dari negara asing.

Oleh karenanya, perlu kesadaran yang kuat, merasa memiliki negara Indonesia yang tinggi, serta memahami sejarah yang kita miliki, karena sejarah acapkali dilupakan oleh generasi muda, seakan kemerdekaan Indonesia tidak dibayar dengan banyaknya nyawa, akibat kurangnya menghayati apa-apa yang telah disampaikan oleh para pendiri bangsa.

Hut Kemerdekaan RI

72 tahun Indonesia merdeka, tentu, kita semua mengingatnya. Sebagai anak bangsa harus bersatupadu dan kembali merekatkan, menyatukan persatuan dan kesatuan kita, bersama-sama melawan isu hoax, terorisme dan radikalisme yang tersebar melalui sosial media.

Radikalisme harus terus kita lawan, salah satu caranya dengan terus menerus menggaungkan perdamaian melalu literasi dan konten-konten positif, tidak boleh kalah dan lengah dengan apa yang sudah dilakukan oleh gerakan-gerakan terorisme dan radikalisme, juga isu hoax.

Perlawanan terhadap radikalisme harus menjadi kesepakatan bersama, agar Indonesia tetap bisa dijaga dengan keberagaman yang kita miliki bersama. Seperti dikutip di laman Kementerian Agama, baru-baru ini, sejumlah 500 mahasiswa baru Fakultas Ushuludin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah dibekali materi deteksi dini radikalisme.

Mahasiswa baru sebagai cikal bakal generasi yang akan datang, harus dibekali dengan pengetahuan perkembangan terorisme dan radikalisme dewasa ini, sehingga Mahasiswa baru tidak terjebak pada kelompok yang melakukan aksi teror mengatasnamakan agama apapun.