Korban Paris: Apa Salahku?

0
280

Tempat ini begitu hening. Jantung pun diam.. takut hening terusik detak.

Hening teramat hening, lebih terasa selepas gaduh huru hara tiada.

Serasa semua tiada, seolah hanya aku yang hidup, sadar, dan bergerak. Hidup bergerak tanpa detak..

Hening dalam kosong.. sangat susah papar cerita padamu. Bagaimana ku bercerita keheningan jika mulutku bersuara?. Bagaimana melukis kosong jika mata-kuasku buta, tiada benda dan tiada warna tertatap.

———-

Tenang damai semestinya, namun tidak. Tanya pikirku terus mengusik,..  Apa salahku? Kenapa terbuang terdampar di sepi ini..

Terus coba ku raih gambar rekam ingatan,..

Apakah ku menyinggung perasaan? merampas bahagia? berpunya hutang? membunuh?. Jelas bukan membunuh,.. ku tak pernah membunuh manusia..

Ingatan seolah ruang hampa, tak ada satupun kutemukan bayangan disana..

Apakah benar ku lakukan kesalahan besar lagi keji? Ku merasa tak melakukan. Jika benar ku pelakunya, sungguh tiada sadarku..

Mungkin peran tidak-langsung ulahku atas derita manusia lain,..namun ulur panjang nalarku tak berujung pangkal.

———-

Di sudut-sudut kota,.. tiba-tiba semua peduli kepergianku, merasa kehilangan,.. Padahal selama ini ku tak terlalu pedulikan mereka,. tak peduli pada dunia..

Ketidakpedulian itu sebabnya,? Jika karenanya, kenapa terbalik,..kenapa peduli dunia tertuju padaku ??

Apakah benar karena ketidakpedulian itu?. Hanya belum juga ku menyadarinya? Karma?

———-

Ku ingin tahu dan tersadar,.. supaya tiada lagi suara tanya, supaya dapat nikmati dekap hening ini..

Ku butuh tak sebatas terang lilin menyala,.. ku butuh jelas kabar duduk perkara,..

***

_______________________________

Jauh Tenggara Paris, November 2015

(Imam Muttaqin dari http://www.kompasiana.com/masimam/korban-paris-apa-salahku_564b4369d67e615507f22b1d)

Sumber ilustrasi foto