Agama, Budi Luhur, dan Kedamaian

0
301

Dulu, seakan-akan sudah lama, judul seperti yang di atas dianggap biasa, wajar, dan sedikit rutin. Tetapi sekarang justru mereka yang jujur dan serius dengan agama mereka, tidak dengan mudah berani mengklaim bahwa agama membuat manusia berbudi luhur dan menjadikannya pembawa damai dalam masyarakat.

Terlalu banyak perasaan curiga, benci, konflik dan bahkan perang saudara yang kalau tidak atas nama agama, maka sekurang-kurang nya agama ikut serta sebagai unsur yang mempertajam pertentanganpertentangan yang ada. Agama bukan sebagai pembawa perdamaian, melainkan sebagai pemicu perpecahaan dan konflik. Bahkan atas nama agama kadang-kadang dilakukan perbuatan-perbuatan yang oleh orang dengan rasa moral yang masih sehat akan dinilai sebagai kejahatan.

Kenyataan yang mengejutkan, dan bagi agamawan menyedihkan, ini jangan kita sangkal. Akan tetapi, justru karena agama tidak jarang menjadi masalah dalam masyarakat daripada pemecahnya, perlu kita tegaskan bahwa keagamaan yang sebenarnya tetap merupakan salah satu pengembang budi-budi luhur dan pendukung perdamaian dalam masyarakat yang paling ampuh. Agama adalah pembantu pengembangan budi yang luhur! Agama merupakan penunjang kuat perdamaian!.

Yang mendistorsikan agama adalah kalau orang menganggap agamanya menjadi miliknya, kalau ia mau menguasainya, kalau agama mau dijadikan alat di tangan, kalau orang mengira bahwa karena ia sendiri beragama, ia mampu menilai kebaikan dan keburukan orang lain. Agama menjadi pervers kalau orang yang berketuhanan menganggap diri, seakan-akan ia sama dengan Tuhan, berhak mengatur hidup orang lain. Pendek kata, perusak agama adalah sikap sombong, dan kesombongan adalah godaan dan dosa terbesar orang beragama. Kesombongan itu lalu membuatnya menjadi keras hati, tidak tahu diri, bahkan sampai ia mau membunuh atas nama Tuhan.

Agama-agama di dunia cukup berbeda. Dan apa yang mereka yakini masing-masing tidak dapat disesuaikan satu sama lain. Situasi ini tidak ditanggapi betul kalau orang beragama dinasehati – tak jarang oleh mereka yang tidak lagi mempunyai hubungan internal akrab dengan salah satu agama—agar jangan memutlakkan diri, agar semua agama dianggap sama benar dan sebagainya. Menghormati keagamaan seseorang juga menuntut agar kita menghormati bahwa ia mengimani agamanya sebagai benar. Tentu orang mengikuti agamanya karena ia merasakan, bahkan sering meyakini, agamanya sebagai jalan yang benar baginya. Untuk membangun hubungan baik di antara agama-agama, jangan dituntut agar masing-masing penganutnya kurang meyakini agama mereka.

Tetapi ada yang mempersatukan agama-agama, yaitu keyakinan, atau perasaan di lubuk hati, bahwa realitas di mana kita menemukan diri adalah lebih mendalam dan lebih luas daripada apa yang kasatmata secara inderawi. Agama menunjukkan bahwa hidup adalah lebih daripada makan, minum, bernafsu dan beremosi. Semua agama mengajarkan bahwa hidup kita hanya dapat dimengerti dalam suatu cakrawala makna yang melampaui eksistensi individual kita masing-masing. Akan tetapi makna ini bukannya menindas, melainkan justru memberi makna kepada diri kita. Diri kita lebih daripada batas-batas tubuh inderawi dan tidak terhapus begitu saja pada saat tubuh kita yang lemah ini tidak bernyawa lagi, lalu dikubur atau dibakar untuk kembali menyatu dengan tanah.

Agama-agama mau membebaskan kita dari keterikatan pada egoisme kita sendiri. Oleh karena itu semua agama mengajarkan nilai kesediaan untuk mengorbankan sesuatu, untuk berkurban, daripada sikap yang tidak bisa melepaskan. Akan tetapi, dan itulah bagian dari makna yang kita peroleh dari agama-agama kita masingmasing: Pengorbanan-pengorbanan demi sesama itu bukannya membuat hidup kita miskin dan suram, melainkan menjadi penambah ke gembiraan. Orang yang beragama dalam arti yang terbuka dan positif ini adalah orang yang bahagia. Orang beragama bisa berbaik hati karena ia, dalam-dalam, adalah orang yang bahagia! Keagamaan menawarkan kebahagiaan yang sejati, bukan hanya di hidup sesudah kematian, melainkan dalam hidup ini.

Karena itu orang yang beragama dalam arti yang sebenarnya adalah orang yang di tengah-tengah segala kesibukan tetap santai hatinya. Ia adalah orang gembira. Dan di dalam segala cobaan, kekecewaan, pengalaman yang berat, bahkan penderitaan yang mungkin saja menimpanya, ada suatu kebahagiaan mendasar. Suatu kebahagiaan yang tidak diproduksi sendiri, melainkan diterimanya. Makin ia maju dalam sikap hati dan hidup, makin ia menjadi sadar bahwa hidupnya, eksistensinya, segala usahanya, kegagalan dan sukses-suksesnya merupakan suatu rahmat, suatu anugerah yang diterimanya. Ia menjadi orang yang berterimakasih. Sikap terimakasih yang erat sekali berkaitan dengan kerendahan hati adalah ciri orang ber-Tuhan, orang beragama, orang yang mengikuti “jalan” mereka, dao mereka menurut ajaran Lao-tzu. Dan karena orang beragama tahu bahwa dirinya sendiri adalah sebuah anugerah, bahwa apa saja yang ada padanya adalah rahmat, ia menjadi rendah hati, positif, terbuka dan baik.