Profesor Sumanto Al Qurtuby: Tiga Mitos Radikalisme Timur Tengah

0
172

Jakarta – Aku.dutadamai.id, Gejala Radikalisme Timur Tengah dan Pengaruhnya di Indonesia. Tentu, dapat kita tangkap dari gerakan di Indonesia. Ada tiga mitos yang berkembang terkait informasi yang dibelokkan oleh orang yang memiliki tujuan politik di Indonesia. Demikan disampaikan oleh Pengajar di King Fahd University, Arab Saudi, Profesor Sumanto Al Qurtuby dalam pemaparanya pada acara Diskusi Publik bertema: Radikalisme di Timur Tengah dan Pengaruhnya di Indonesia, Sabtu (22/7/2017) di Jakarta Selatan.

Lebih lanjut Qurtuby mengatakan “Pertama, kekerasan yang terjadi di Timur Tengah itu ulah barat, statement tersebut adalah cuci tangan, karena kekerasan yang terjadi di Timur Tengah tidak melulu dilakukan oleh Barat, tetapi ada juga yang dilakukan oleh Islam itu sendiri.

“Kedua, Mitos konflik timur tengah selalu Sunni Syiah, melainkan perebutan kekuasaan dan politik, ada yang dengan sengaja bermain dalam isu ini untuk kepentingan politik semata dengan membelokkan kondisi real disana. Perlu kita ketahui, Sunni Syiah hanyalah kelompok kecil disana, didalam Syiah Sunni pun memiliki faksi-faksi juga.” Ujar Qurtuby di acara yang sama.

Oleh karenanya, kata dia, jangan memaknai konflik di Timur Tengah sebagai konflik agama. “Indonesia jangan terpengaruh ke sana. Itu semata-mata karena politik,” sambung Qurtuby.

Dan yang ketiga adalah Mitos Muslim – Kristen selalu digaungkan oleh kelompok yg memiliki agenda politik di Indonesia”

Sementara Direktur Wahid Institute, Yenny Zannuba Wahid mengungkapkan tingkat radikalisme di Indonesia sudah mencapai tahap mengkhawatirkan.

Dari data yang diambil dari Wahid Institute bekerjasama dengan LSI pada 2016 lalu, tercatat pihak yang mau melakukan tindakan radikal di Indonesia hampir setara dengan jumlah penduduk DKI Jakarta dan Bali atau 11 juta orang.

Yenny memprediksi angka tersebut akan terus berkembang seiring kemajuan teknologi penyebaran ajaran radikal yang kian canggih. Terlebih lagi bibit radikal di Indonesia sudah ada sejak lama.

“Angka 0,4 persen dari jumlah penduduk Indonesia pernah melakukan tindakan radikal, dan 7,7 persen mau melakukan tindakan radikal,” ucapnya dalam acara tersebut.

Laki-laki yang muda merupakan pihak yang paling berpotensi untuk melakukan tindakan teror, pasalnya generasi muda lebih rentan untuk disusupi pemikiran radikal, ungkap Yenny.

Yenny menambahkan seperti yang terjadi di Tangerang akhir-akhir ini, “seorang pemuda yang melakukan tindakan kekerasan pada polisi dengan pisau dapur di deket pos polisi”

Fase mencari jati diri menjadi alasan kuat bahwa pemuda menjadi sasaran. Tidak hanya itu, faktor lainnya yakni, banyaknya konten-konten di dunia Internet bermuatan kebencian,” ujar Yenny.

Hadir pula Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius. Dia mengajak masyarakat silent majority bisa bersikap lebih aktif. Jangan sampai kalah dengan pelaku teror. Agar dapat menangkal pengaruh-pengaruh radikalisme.