Islam Menyebar Damai Dengan Tasawuf

0
201

MENGAPA Islam masuk ke Indonesia berjalan mulus, dan kemudian bertahan, bahkan kini Indonesia merupakan negeri dengan umat Islam terbesar di dunia? Alwi A. Shihab, seorang wiraswastawan Indonesia yang tertarik mempelajari Islam, punya jawaban menarik. Kata dia, itu karena Islam yang masuk ke Nusantara banyak diwarnai oleh tasawuf.

Para sufi (pemeluk tasawuf) yang membawa Islam ke Indonesia itu berbicara dengan bahasa yang bisa dipahami dan diterima oleh semua agama dan aliran. Misalnya, mereka tak lalu memusuhi wayang, yang jelas-jelas pada awalnya menyiratkan spirit Hindu. Justru, dengan cerdik, mereka menyelipkan ajaran dan semangat Islam ke dalam wayang, dan mengajak para penonton pertunjukan wayang masuk Islam. Ajimat Pandawa Lima yang disebut kalimosodo tak ada dalam naskah Mahabharata yang asli India. Menurut orang Jawa, kata kalimosodo itu mengacu pada “kalimat syahadat.” Untuk memperoleh banyak pengikut itulah Muhammad Jailani yang datang ke Aceh dari Gujarat terpaksa balik ke Mekah. Ia terpaksa belajar tasawuf dulu, baru kemudian kembali ke Aceh untuk menyebarkan Islam. Dan ternyata memang kemudian ia mendapat banyak pengikut.

Indonesia adalah surga sufi. Beragam aliran berkembang dan pengikutnya diperkirakan lebih dari tujuh juta orang. Setiap tahun, ribuan sufi dari seluruh dunia berkumpul di Indonesia. Mereka tidak bicara soal kesesatan, mereka lebih memilih bercakap-cakap soal cinta kasih sembari mencari titik-titik temu antar beragam keyakinan Indonesia menjadi surga bagi para sufi. Jutaan orang menjadi pengikut aliran yang sering disebut sarjana barat sebagai mistikus Islam: mereka yang lebih mengedepankan batin dalam mendekati Tuhan. 

Tasawuf Memberi Keseimbangan Hidup

Kecenderungan kehidupan yang berlatar belakang falsafah kapitalisme bukan saja menjadikan gaya kehidupan manusia ke arah materialistic-hedonistic tetapi juga menimbulkan rasa terancam dan kekacauan dalam masyarakat. Kehidupan manusia di penuhi kezaliman, kesedihan dan keruntuhan akhlak, seolah-olah tiada lagi harapan dan cinta dalam kehidupan seharian. Berdasarkan hal ini, modernisme dilihat gagal memberikan kehidupan yang lebih bermakna dalam kehidupan manusia, sehingga keadaan ini telah menimbulkan berbagai persoalan dalam masyarakat.

Dalam perjalanan sejarah spiritualisme Muslim, terlihat bahwa transendensi atau tasawuf merupakan jalan ketuhanan spiritual para sufi. Ini karena jalan itu dirasakan amat releven dengan kehidupan. Dalam suasana transendensi, seorang sufi mengalami suasana realita yang baru yaitu suatu kehidupan yang bebas dari hidup yang dipenuhi dengan kezaliman, ketamakan, sifat dan rakus. Dengan menempuhi dunia spiritual ini, seseorang itu merasakan hidup di alam kecintaan dan alam kemenangan. Bagi kelompok ini, realita spiritual yang ditempuh bukanlah sesuatu yang ilusi, tetapi benar-benar suatu realita yang hanya dapat dinikmati sebagai sesuatu pengalaman keagamaan.

Sufisme fokusnya pada yang batin, sementara kelompok fundamentalis fokusnya adalah kewajiban melaksanakan hukum agama. Itulah yang membuat sufisme dalam sejarah Islam selalu berkonflik dengan kelompok fundamentalis. Ketika seseorang mendalami dimensi batin agama, maka dia akan ‘bertemu’ dengan agama-agama lain. Karena itulah sufisme sangat toleran terhadap perbedaan keyakinan, karena dia lebih melihat pada dimensi batin agama. Meski dikenal dunia sebagai negara berpenduduk muslim moderat, namun belakangan Indonesia mengalami gelombang pasang intoleransi: pemboman oleh kelompok teroris maupun penyerangan atas kelompok minoritas oleh kelompok Islam radikal. Kelompok sufisme sangat tidak suka dengan kelompok radikal. Tapi pandangan mereka sayangnya jarang diekspos oleh media massa. Dia meyakini bahwa sufisme sangat efektif untuk melawan doktrin-doktrin di dalam Islam yang bersifat ekstrim. Pengikut sufisme itu bagian dari silent majority di dalam Islam.

Sufisme mengajarkan tentang cinta damai, kasih sayang, tentang bagaimana menghargai kemanusiaan. Seorang sufi selalu berusaha mengerti keberadaan manusia berasal dari keyakinan masing-masing tanpa memaksakan kehendak mana yang lebih benar.

Tasawuf dan Modernitas

Tasawuf dan zaman modern adalah dua term yang tidak bisa dipisahkan dan harus dimiliki oleh manusia karena keduanya memiliki peran masing-masing dalam diri manusia yakni dalam mengemban amanat-Nya sebagai wakil Allah SWT di muka bumi. Oleh karena itu, usaha mengembangkan keduanya menjadi sesuatu yang harus kita optimalkan. Bagaimana bertasawuf tanpa meninggalkan aktifitas di zaman modern tanpa meninggalkan konsep-konsep tasawuf.

Tasawuf, bagaikan “magnet”. Dia tidak menampakkan diri ke permukaan, tapi mempunyai daya kekuatan yang luar biasa. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk apa saja. Dalam kehidupan modern yang serba materi, tasawuf bisa dikembangkan ke arah yang konstruktif, baik yang menyangkut kehidupan pribadi maupun sosial. Ketika suatu mayarakat sudah terkena apa yang disebut alienasi (keterasingan) karena proses pembangunan dan modernisasi, maka pada saat itulah mereka butuh pedoman hidup yang bersifat spiritual yang mendalam untuk menjaga integritas kepribadiannya.

Relevansi tasawuf dengan kecenderungan kehidupan modern, antara lain bahwa perkembangan masyarakat modern sudah tidak memadai lagi untuk dipenuhi sekadar ibadah-ibadah pokok. Masyarakat modern memerlukan pengalaman keagamaan yang lebih intens dalam pencarian makna. Kecenderungan ini hanya dapat dipenuhi oleh esoterisme-tasawuf yang kini direpresentasikan oleh tasawuf.

Kondisi sebagaimana tersebut di atas adalah sangat niscaya, karena semua jawaban terhadap zaman modern ini tidak hanya ditentukan oleh peranan rasio saja tetapi juga mencari jawaban dengan menengok kembali pada aspek-aspek batiniah, mendasarkan penghayatan dan pengalaman esoteris. Di sini menunjukkan bahwa begitu pentingnya tasawuf dalam kehidupan manusia, di mana tugas tasawuf adalah untuk pendisiplinan watak serta penanaman adab spiritual. Dan ini menunjukkan betapa signifikannya sufisme dalam kehidupan manusia apalagi zaman sekarang yang sudah memasuki abad modern.