Radikal Serang Kaum Intelektual, Kampus Harus Bertindak!

1
307

Membaca berita bertajuk “Radikalisme Ideologi Menguasai Kampus”, sontak saya was-was dan takut. Ironis, tempat dimana kaum intelektual bernaung, kelompok radikal mampu menyasar juga. Apalagi tempat pendidikan lainnya ya? Hmm..

Tentu kita harus terus waspada terhadap radikalisme. Karena gejala radikalisme ini harus sesegera mungkin dilawan. Bila tidak? Ancaman radikalisme benar-benar nyata dan akan merusak tatanan yang ada.

Jika kaum terdidik, berdiam diri, mustahil perdamaian yang kita harapkan terwujud. Saat ini, diam sudah bukan lagi pilihan, mari bergabung bersama pemerintah (BNPT) menyuarakan nilai-nilai perdamaian, NKRI, kebhinnekaan dan ke-Indonesia-an.

Berangkat dari kegelisahan keadaan bangsa sekarang ini, penulis ingin mengingatkan betapa pentingnya kebersamaan yang menjadi titik balik melawan terorisme dan radikalisme, agar dunia kembali aman dan sentosa dan terbebas dari belenggu kelompok radikal dan terorisme.

Kampus Harus Jadi Tempat Penebar Cinta Damai

Sekarang, tidak perlu ada lagi kampus permisif, tidak perlu lagi ada jarak antara mahasiswa dengan pengajar, kita harus bahu membahu menangkal terorisme di kampus secara bersama-sama. Membunuh paham radikal sampai ke akar-akarnya.

Kampus harus menjadi wadah memanusiakan manusia. Kampus sebagai benteng moral, kampus sebagai tempat pencerahan dari ketidakpahaman menjadi paham. Kampus juga harus terbuka pada nilai-nilai toleransi, bukan sebaliknya.

Kampus harus menutup rapat api kebencian, api dendam dan api kekerasan yang selama ini muncul dalam kehidupan di kampus. Sadar ataupun tidak, api kecil itu tumbuh bilamana penghuni kampus acuh tak acuh, menjelma menjadi api yang sangat mengerikan, melahap semua sendi-sendi yang ada.

Karenanya, api kecil tersebut jangan dianggap remeh, jangan dianggap enteng, tetap dalam kewaspadaan yang tinggi, agar api kecil itu pelan-pelan mati dengan sendirinya.

Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Kepala BNPT Komisaris Jenderal Polisi Suhardi Alius, dalam acara deklarasi anti narkoba dan radikalisme di Universitas Negeri Semarang, bahwa wadah pendidikan merupakan tempat persemaian generasi berikutnya, oleh karena itu harus steril dari radikalisme dan narkoba.

Ungkapan yang disampaikan oleh Kepala BNPT diatas menjadi warning akan pentingnya memberangus gerakan-gerakan radikal di kampus menjadi tanggung jawab abersama. Tanggung jawab dalam menangani teroris dan radikal di kampus tidak hanya Pemerintah, tetapi yang lebih dekat adalah dosen-dosen yang setiap hari bercengkerama dengan Mahasiswa. Tentunya, gejala-gejala tersebut dapat dikenali dan diminimalisir secara dini.

Hal ini sejalan dengan keteladanan yang disampaikan oleh tokoh pendidikan Indonesia Ki hajar Dewantara, Ing ngarso sung tulodo (di depan memberi contoh), Ing madyo mangun karso (di tengah memberi semangat), Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan).

Tak sedikit kalangan mahasiswa dan civitas akademika yang belum matang dan benteng pertahanan diri masih rapuh. Inilah tugas kampus, dosen, orang tua, teman, dan kita, untuk bergandeng tangan mencegah merambatnya paham radikalisme dan terorisme di kampus. Kampus harus menjadi tempat menebar cinta damai dalam diri setiap mahasiswa. Bukan begitu?

 

*Sumber foto di sini