Pancasila dan Agama Saling Bergandeng Tangan

0
499

Setiap bangsa di dunia yang ingin berdiri kokoh, sangat memerlukan pandangan hidup. Pandangan hidup akan membuat bangsa mampu memecahkan masalah dengan tepat. Tanpa pandangan hidup, suatu bangsa akan terombang-ambing.

Pancasila adalah ideologi dasar untuk Indonesia. Terdiri dari dua kata dari Sansekerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Berbagai agama, suku, budaya, dan bahasa menjadi ciri bahwa Indonesia kaya akan keanekaragamannya.

Pancasila, melalui semboyan Bhineka Tuggal Ika, mengandung makna bahwa meskipun masyarakat Indonesia sangat plural, tetapi mereka diikat dan disatukan oleh sebuah landasan hidup bersama (common platform) yakni Pancasila.

Sama halnya dengan Piagam Madinah yang  juga merupakan kesepakatan antara kaum Muslim Madinah dibawah pimpinan Nabi Muhammad SAW dengan berbagai kelompok non-Muslim untuk membangun tatanan sosial-politik bersama. Sebagai sebuah ikatan perjanjian politis antar umat beragama, Piagam Madinah memiliki beberapa kesamaan substansi dengan Pancasila.

Relevansi Piagam Madinah dengan Pancasila

Pertama, sama-sama dibangun atas dasar kesatuan umat, yang menghuni sebuah batas teritorial tertentu, bahkan sudah mampu melampaui konsep negara bangsa kini, dimana kesatuan didasari oleh kesamaan senasib-sepenanggungan untuk membela tanah air.

Itulah satu umat, satu kesatuan masyarakat yang saling mempertahankan dan melindungi bila ada musuh yang datang menyerang. Perjanjian dalam piagam itu dapat berjalan beberapa waktu, sampai kelompok Yahudi berkhianat, justru di saat genting ketika Muslimin akan menghadapi serbuan Quraisy. Namun yang terjadi di Indonesia pasca dibukanya jalan demokrasi, muncul beberapa kalangan yang menolak Pancasila karena Pancasila lahir dan tinggal di Indonesia.

Kedua, Piagam Madinah memberi hak sepenuhnya kepada tiap umat beragama untuk menjalankan ibadah sesuai kepercayaan masing-masing. Demikian pula, Undang-Undang kita yang menjamin eksistensi agama dan peribadatan tiap warga negaranya.

Ketiga, perlindungan diberikan kepada mereka yang tidak berbuat zalim (la ‘udwana illa ‘ala azh-zhalimin). Zalim adalah lawan dari adil, siapa yang tidak melakukan kewajibannya dan melanggar hak orang lain. Maka dia akan diberi sanksi sesuai kezalimannya, tanpa memandang pada etnis atau latar belakang agamanya.

Keempat, Piagam Madinah mengakomodir semua golongan, justru dengan tanpa mencantumkan secara eksplisit “syariat Islam” ke dalam body-text-nya. Pancasila dengan asas ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ sebenarnya sudah lebih baik. Di samping itu, spirit yang diperoleh dari piagam ini adalah, tidak ada golongan yang mendapakan hak lebih sebagai warga negara dibanding golongan yang lain

Di Belakang Pancasila, Ada Kekuatan Agama

Kesamaan derajat dihadapan konstitusi inilah yang kemudian mendasari salah satu isi Pidato Bung Karno pada hari kelahiran Pancasila, 1 Juni 1945. Ia mengatakan: “Kita hendak mendirikan suatu negara “semua buat semua”. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi “semua buat semua”.

Pancasila mampu melindungi pluralitas yang ada, dan menjadi ideologi negara, maka Pancasila akan memperkokoh pertahanan nasional dan memperkokoh NKRI. Sebab Pancasila akan dimiliki semua pihak. Bila Pancasila itu tumbuh pada diri setiap anak bangsa dengan diperkokoh atau diback-up oleh agamanya, maka kekuatan, kesatuan dan persatuan semakin erat terjalin dan tidak akan mudah digoyahkan.

Pancasila menjadi sebab tumbuhnya nasionalisme dan bebas dari kepentingan politik atau tidak akan menjadi bemper kepentingan politik. Sehingga tumbuh mekar secara murni kecintaan kepada agama, tanah air dan bangsa. Dari itu akan menjadi cermin bagi bangsa lain.

Karenanya, dasar negara Indonesia yakni Pancasila yang digagas Ir. Soekarno memiliki keterkaitan dengan keagamaan. Di belakang Pancasila ada kekuatan agama. Kecintaan terhadap tanah air akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Jika nasionalisme kita semakin melemah, jangan harap kita sebagai Muslim bisa menjawab tantangan umat dan tantangan bangsa.

“Kecintaan pada partai jangan melebihi mata kaki. Kecintaan pada bangsa dan negara sampai ke leher. Kecintaan pada agama melebihi ujung kepala.” (Maulana Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya).

*Sumber ilustrasi disini