Isra Mi’raj, A Meaningful Journey

0
90


“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
(Q.S Al Isra’: 1)

Setiap 27 Rojab kita kenal sebagai peringatan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT kepada Rasul terkasih-Nya Muhammad SAW.

Dikatakan mukjizat karena peristiwa ini tidak masuk logika dan sangat luar biasa. Karena dalam waktu satu malam, Rasulullah mampu menempuh perjalanan dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Sidratul Muntaha atau langit ke tujuh.  Itu merupakan peristiwa luar biasa yang hanya dapat terlaksana karena iradat dan kekuasaan-Nya.

Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa penting dalam perjalanan Nabi Muhammad. Dalam peristiwa itu Rasul tidak hanya menyaksikan surga dan neraka, namun Rasul juga menerima perintah untuk melaksanakan sholat 5 waktu.

Kita tahu bahwa sholat itu adalah tiangnya agama, maka barang siapa menegakkan sholat maka dia telah menegakkan agama Islam agar senantiasa jaya. Namun barang siapa meninggalkan sholat maka dia telah meruntuhkan agama Islam yang telah dirintis dengan susah payah oleh Baginda Rasulullah.

Lahirnya perintah sholat 5 waktu yang dimulai dengan peristiwa besar isra’ mi’raj, menandakan bahwa sholat merupakan ibadah besar bagi umat muslim. Selian sebagai ibadah wajib yang rutin, sholat diyakini dapat membentuk karakter dan kepribadian yang baik bagi individu yang mendirikannya. Orang yang selalu mengerjakan sholat pastinya tidak akan bersifat sombong karena faham bahwa keagungan itu hanya milik Allah.

Jumlah waktu sholat yang semula  berjumlah 50 kali sehari semalam menjadi  hanya 5 kali. Hal itu merupakan dispensasi yang diberikan oleh Allah sebagai wujud permohonan Nabi Muhammad SAW .  Atas pertimbangan dari Nabi Musa As  dengan apa yang terjadi pada umatnya.  Nabi Musa ragu umat Muhammad bisa menjalankan perintah sholat sebanyak itu. Oleh karena itu Nabi Musa menyarankan pada Nabi Muhammad untuk memohon keringanan pada Allah SWT.

Terjadinya percakapan antara Nabi Muhammad SAW dengan Allah dalam penyampaian perintah sholat merupakan esensi bahwa dalam sholat juga terjadi percakapan antara manusia dengan Allah. Untaian kata dalam sholat bila dipahami maknanya merupakan permohonan manusia secara langsung kepada Allah.

Nah, kawan, sudahkah kita sholat dengan betul dan khusyu’?  Sholat yang dilakukan dengan khusyu’ insha Allah akan membawa ketenangan  bagi jiwa dan raga.

Wallohu a’lam…

SHARE
Previous articleBandung dan Solidaritas Asia Afrika
Next articlePancasila dan Agama Saling Bergandeng Tangan
“If you fail to plan, you are planning to fail” Call me Dilla. Aku mahasiswa sekolah Pasca Sarjana Uninus Bandung yang hobi traveler dan free writing. Sapa aku di Instagram @dhilla_1926.