Kartini Penebar Virus Perdamaian

0
213


Setiap tanggal 21 April, rakyat Indonesia memperingati hari Kartini. Perlu diketahui bersama RA. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. RA. Kartini dikenal sebagai wanita yang mempelopori kesetaraan gender (derajat) antara wanita dan pria di Indonesia. Pengalaman Kartini dalam menerjang kebiasaan lama, perlu dijadikan renungan bersama, bahwa wanita pun bisa maju dan lebih baik dari seorang pria, tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita. Mengingat Kembali Sosok Kartini

Melongok sebentar kelahiran sosok kartini, lahir dari keluarga priyayi, tak lantas serta merta dia mau disebut sebagai keluarga bangsawan, dia lebih senang bergaul dengan rakyat jelata. Bila ditelusuri, keluarga Kartini merupakan keturunan Kerajaan Majapahit. Ayahnya seorang bupati di mayong.

Saat usia 12 Tahun, kartini kecil dilarang melanjutkan studinya oleh ayahnya sendiri, karena usia seperti itu sudah sewajarnya dipingit. Meski dilarang, Kartini kecil mulai bersurat dengan Rosa Abendanon. Ia pun tak ketinggalan membaca buku-buku eropa yang membuka cakrawala wawasan nya tentang wanita eropa yang berpikir maju, dari sinilah Kartini tersulut untuk memajukan wanita di Indonesia.

Kartini menikah tanggal 12 November 1903, walaupun sudah menikah, tekad bulat Kartini dalam membangun sekolah wanita di restui oleh suaminya. Kartini memiliki seorang anak yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Kartini kemudian menghembuskan nafas terakhirnya 4 hari setelah melahirkan anak satu-satunya di usia 25 tahun.

Kartini menelurkan gagasan “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang merupakan kumpulan surat-surat dulu kepada teman koresponden di Belanda, Mr. J.H. Abendanon, kemudian Abendanon membukukan seluruh surat itu dan diberi nama Door Duisternis tot Licht, atau dalam bahasa melayu “Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran”.

Sebagai generasi muda, tentu kita hanya melihat sejarah, beliau pahlawan Indonesia. penulis terinspirasi apa yang dilakukan oleh Kartini, tekad bulat ingin mensejajarkan wanita begitu kuat. Niat baik inilah seyogyanya ditiru oleh perempuan di Indonesia, tidak hanya berpakaian ala kekartinian, pola pikirnya pun bisa ditiru.

Kartini Masa Kini

Perjuangan Kartini itu dilanjutkan perempuan Indonesia sekarang. Banyak sekali tokoh perempuan Indonesia menjadi publik figur yang menebar virus prestasi dan kerja keras. Merujuk survei yang dilakukan oleh Rustika Herlambang @tika_herlambang dari Lembaga Indonesia Indicator “Perempuan Dalam Berita” survei dilakukan 1 Mei 2016-16 April 2017, kontribusi perempuan dalam pemberitaan cukup signifikan.

Sri mulyani Indrawati menjadi orang pertama yang paling banyak ucapan nya dikutip oleh media, disusul beberapa tokoh wanita yang memiliki pengaruh di Indonesia. Inspirasi kartini bahwa kesetaraan derajat sudah sedemikian berkembang, alhasil beberapa tokoh wanita yang memberikan kontribusi positif bagi negeri ini perlu diacungi jempol.

Kartini masa kini, menjelma menjadi tokoh wanita yang memiliki pengaruh dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa ini menjadi bangsa yang beradab. Indonesia tidak saja memperingati kartini dengan sekedar memperingati, tapi pola pikiranpun seyogyanya mengilhami apa yang dilakukan oleh Kartini di masa lampau.

Kartini Penebar Virus Perdamaian

Bilamana perempuan di Indonesia cerdas, tentunya pesan teror yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawabpun mampu direduksi dengan baik. Indonesia perlu Kartini, untuk memberangus paham radikalisme dan teror.

Fenomena perempuan dalam jaringan terorisme, menjadi penanda bahwa teroris menggunakan segala upaya untuk melakukan teror demi tujuan dan keuntungan nya sendiri, tanpa melihat siapa korbannya. Seperti di kutip di Instagram @damailahri, tahun 1969 di palestina, Dian Yulia Novi (diduga akan melakukan pemboman di Istana Kepresidenan) Tahun 2016, Laila Khalid (Pembajakan pesawat dua kali sebagai bagian dari ekspresi politik penjajahan israel pada Palestina) Tahun 2017, Jumiatun muslim (istri santoso yang ditangkap di Poso).

Jihadis wanita diatas bukanlah Kartini yang dimaksud, kartini mengajarkan perdamaian melalui pemikirannya, tidaklah merusak apalagi membuat teror. Kartini kekinian lahir dengan paras yang berbeda, tetapi memberikan kedamaian untuk sesama. Bukan memegang senjata, tapi bahu membahu membangun Negeri ini dengan pikiran nya, dengan kekuasaan nya. Inilah kartini sesungguhnya.

Tentu, kita bertanya pada masing-masing di dalam diri kita! Akankah kartini berubah menjadi radikalis atau Kartini yang menyemai perdamaian, jawaban nya ada dalam diri kita. Penulis berharap, perempuan di Indonesia harus berani melawan radikalisme dan teror yang semakin berkembang. Semoga.