ISLAM DAN DAMAI

0
245

Selalu ada kebutuhan untuk melihat, membicarakan dan mengaktualkan kembali masalah agama dan damai (peace) dikarenakan keraguan sebagian orang terhadap agama sebagai pengemban misi kedamaian. Agama tidak jarang diidentikkan dengan kekerasan, permusuhan dan bahkan perang terutama ketika harus berhadapan dengan agama lain dan isu-isu yang terkait; kemajemukan atau pluralitas agama, sosialisasi agama, misi atau dakwah agama, rumah ibadah, dan lain-lain. Agamapun seringkali tidak bisa berbuat banyak dalam menyelesaikan masalah-masalah kemiskinan, konflik sosial, kekerasan rasial dan agama, dan kerusakan lingkungan. Pendek kata, agama bagi banyak orang jauh dari kata damai dalam tataran empiriknya –meskipun banyak juga orang yang memiliki keyakinan sebaliknya. Bagi kelompok orang yang terakhir ini, secara normatif semua agama dapat dibuktikan kebenarannya dalam hal bahwa setiap agama pasti mengemban amanah perdamaian, dan diyakini sebagai salah satu esensi ajaran daripada semua agama.

Dalam konteks Islam, meskipun kita semua dapat merasakan urgensi pembicaraan Islam dan damai (kedamaian, perdamaian), sesungguhnya hal itu juga akan menimbulkan sebuah pertanyaan, mengapa kita harus membicarakannya kembali? Nampaknya di awal abad ke-21 ini, Islam menjadi agama yang paling babak belur citranya disebabkan oleh peristiwa-peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang yang beragama Islam. Citra Islam sebagai agama yang mentolerir kekerasan pun mendominasi pikiran banyak orang di dunia ini. Kenyataan ini tidak terlepas dari peristiwa-peristiwa kekerasan yang disinyalir bermotivasi agama terutama karena publikasi media-media internasional besar, peristiwa World Trade Centre (WTC) 11 September 2001 dan peristiwa-peristiwa lain yang mengikutinya di berbagai belahan dunia.

Mensosialisasikan terus-menerus prinsip damai sebagai esensi ajaran agama Islam, dengan demikian selalu dipandang perlu dari waktu ke waktu sebagai upaya untuk mencegah terjadinya peristiwa serupa yang melibatkan umat Islam di waktu-waktu yang akan datang. Yang tidak kalah penting dari itu adalah untuk mengaktualisasikan kembali Islam sebagai agama damai.

Peristiwa pengeboman-pengeboman, konflik umat Islam dengan non muslim, bahkan dengan umat Islam sendiri, seperti yang terjadi di beberapa negara seperti Filipina, Maluku (Indonesia), Thailand, India, Pakistan, Muslim Sunni vs Muslim Syi’ah, Palestian-Israel, Israel vs negara-negara Arab, meskipun sering dibantah atau ditutup-tutupi, sesungguhnya membenarkan realitas, bahwa memang ada aspek agama yang menyertai konflik, meskipun konflik itu berawal dari masalah di luar agama. Sumber konflik itu mungkin pada awalnya masalah perbedaan status sosial/ekonomi atau ada aspek politik yang terselubung, namun kemudian dipicu oleh suatu insiden, tetapi mengapa kemudian membelah manusia dalam kelompok-kelompok berdasarkan identitas agama.

Dugaan adanya keterlibatan umat beragama dalam banyak peristiwa kekerasan belakangan ini memang tidak terbantahkan. Hal ini tercermin dari pidato-pidato ataupun khotbah-khotbah di rumah-rumah ibadah yang suci tetapi kebencian justru diperdengarkan di dalamnya. Pengakuan jujur seperti itu sangat penting untuk dapat melihat permasalahannya secara jernih, sehingga kita mampu menempatkan kembali agama (Islam) sebagai sumber perdamaian, tanpa melepaskan diri dari realitas yang ada di masyarakat.

Keberagaman Sejati

Rumi membedakan adanya dua macam keberagaman atau dua macam kesalehan. Pertama adalah kesalehan polesan. Orang meletakkan nilai pada segi-segi lahiriah. Orang meletakkan kemuliaan pada pelaksanaan secara harfiah teks syariat. Seperti orang yang berazan, ia merasa betul-betul melaksanakan perintah agama. Karena, azan itu seperti disebutkan dalam hadist adalah suatu kewajiban yang mulia. Dengan berpegang pada teks-teks itu, orang berlomba-lomba melakukan azan. Tetapi, yang mereka ambil hanya bungkusnya dan melupakan hakikatnya, yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang dimaksudkan. Azan dimaksudkan untuk memanggil orang untuk sholat. Tetapi, dalam cerita diatas, azan telah berubah menjadi suatu alat untuk menjauhkan orang dari sholat. Azan tidak lagi menyeru orang untuk beribadah tetapi telah menjauhkan orang dari ibadah kepada Allah Swt. Itulah keberagaman jenis pertama, keberagaman muadzin bersuara buruk. Keberagaman seseorang yang berpegang teguh kepada teks-teks syariat lalu melupakan maksud yang sebenarnya dari ajaran agama.

Kebebasan beragama yang kedua adalah keberagaman Bayazid Al-Bustami. Keberagaman ini menekankan pentingnya memelihara lahiriah agama dengan tidak melupakan segi-segi yang tulus, seperti keimanan Bayazid Al-Bustami.

Jalaludin Rumi mengingatkan kepada kita bahwa keberagaman yang tulus, betapa pun kecilnya, mampu mengubah dunia; sebaliknya keberagaman yang tidak tulus, betapa pun besarnya, tidak berdampak apa-apa, kecuali hanya menjauhkan orang dari ajaran Islam yang sebenanrnya.

Kita memerlukan islam tampil dengan wajah yang ramah. Keterikatan pada bentuk-bentuk lahiriah yang terlalu setia dengan mengabaikan inti dari ajaran Islam, bisa jadi akan menghambat ajakan kita pada orang-orang untuk kembali kepada Islam. Bukankah kita sering menemukan orang-orang yang berdakwah dan memanggil orang kepada Islam,tetapi yang mereka teriakan adalah hal-hal yang membuat makin menjauh dari Islam. Orang-orang yang datanguntuk mencari ilmu dakam sebuah majelis ta’lim, disirami mereka dengan kecaman dan ejekan dengan suara-suara keras menjauhkan kecintaak mereka kepada agama.

Yang kita perlukan sekarang adalah suatu keberagaman yang tulus, betapa pun kecilnya. Yang kita perlukan sekarang adalah satu tetes saja dari keimanan Bayazid Al-Bustami; satu tetes tulus yang membawa orang kembali kepada Allah Swt.

Marilah kita berusaha mencari rahasia dari setiap ibadah yang kita lakukan. Keimanan yang sebenarnya adalah keimanan yang dapat menarik semua orang ke hariban Islam, apa pun bentuknya.

Struktur Ber-agama

Beragama itu adalah pemikiran, sikap dan tindakan yang bulat dan utuh. Ia meliputi Amal-Syareat, Amal-Tarekat dan Amal-Hakikat. Amal syareat adalah perilaku ketaatanyang didasarkan pada norma ketentuan dan tuntutan sebagaimana yang dilakukan dengan sadar dan sungguh-sungguh untuk setia, loyal dan patuh pada jalan dan tuntutan yang diajarkan guru. Amal-hakikat adalah perilaku yang didasarkan pada niat dan kesungguhan untuk menemukan inti dan isi dari setiap tindakan ibadah yang dilakukan.

Bagi seorang “pejalan” dan penempuh laku spiritual , tiga hal di atas adalah syarat mutlak yang harus dimiliki. Ia menjadi modal dasar yang tak ternilai untuk menemukan Alfa dan Omega-nya kehidupan. Bukan hanya Tuhan yang merindukan dan bersedia menyapa dan menjaganya. Bahkan alam: Tanah merelakan didinya serta merindukan diinjak. Air memasrahkan diri dan suka menjadi pelepas dahaga, dan udara bersedia tunduk ikhlas jika dihirup olehnya.

SHARE
Previous articleRabi’ah dan Perempuan Akhir Zaman
Next articleKartini Penebar Virus Perdamaian
Membaca - Berbagi - Mendengarkan - Menulis Setiap Agama itu mempresentasikan ke Satu Realitas Tunggal. Yakinlah! #damaiituindonesia Instagram: @rizqiahlaf Twitter: @ahlaFR Facebook: Rizqi Ahla Firdausi Email: rizqiahlaf@gmail.com Website: jejakpencinta.blogspot.id