Rabi’ah dan Perempuan Akhir Zaman

0
192

 

 

 

 

Siapa tak kenal Rabi’ah Al Adawiyyah, sufi wanita yang dikenal karena kesucian dan kecintaannya kepada Allah. Ialah anak keempat dari empat saudara. Semuanya perempuan. Ayahnya menamakan Rabi’ah, yang artinya “empat”, tak lain karena ia merupakan anak keempat dari keempat saudaranya itu. Setiap hari ayahnya kerap memeras keringat untuk menghidupi keluarganya, sementara anak-anaknya saat itu masih terbilang kecil-kecil.
Apalagi dengan kehadiran Rabi’ah, beban penderitaan ayahnya pun dirasakan semakin bertambah berat, sehingga bila kelak dikaruniai anak laki-laki, diharapkan beban penderitaan itu akan berkurang karena anak laki-laki bisa melindungi seluruh keluarganya. Atau paling tidak bisa membantu ayahnya untuk mencari penghidupan.
Sekalipun keluarganya berada dalam kehidupan yang serba kekurangan, namun ayah Rabi’ah selalu hidup zuhud dan penuh kesalehan.

Begitu pun Rabi’ah, yang meskipun sejak kecil hingga dewasanya hidup serba kekurangan, namun ia sama sekali tidak menciutkan hatinya untuk terus beribadah kepada Allah. Sebaliknya, kepapaan keluarganya ia jadikan sebagai kunci untuk memasuki dunia sufi, yang kemudian melegendakan namanya sebagai salah seorang martir sufi wanita di antara deretan sejarah para sufi.

Keteladanan Robi’ah

Sebagaimana diungkapkan terdahulu, Rabi’ah sejak kecil sudah memiliki karakter yang tidak begitu banyak memperhatikan kehidupan duniawi. Hidupnya sederhana dan sangat besar hati-hatinya terhadap makanan apapun yang masuk ke dalam perutnya.

Bahkan saking zuhudnya, Rabi’ah sering menolak setiap bantuan yang datang dari para sahabatnya, tetapi sebaliknya Rabi’ah malah menyibukkan diri untuk melayani Tuhannya. Selepas dirinya dari perbudakan, Rabi’ah memilih hidup menyendiri di sebuah gubuk sederhana di kota Basrah tempat kelahirannya. Ia meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup hanya untuk beribadah kepada Allah.

Perempuan Akhir Zaman Rentan Radikalisme

Sangat berbeda jauh sekali denga perempuan di akhir zaman ini Dunia tersentak ketika seorang perempuan bernama Dian Yulia Novi tertangkap ketika hendak melakukan aksi bom bunuh diri di Indonesia. Dia pernah jadi buruh migran di Singapura dan ternyata juga isteri Bahrun Naim, pelaku bom Sarinah. Sejumlah faktor ditengarai sebagai penyebab mengapa perempuan terlibat terorisme.

Di antaranya, faktor pergaulan dan pertemanan, perasaan teralienasi dan terpinggirkan, perasaan frustrasi dan dendam, namun faktor ideologi radikal menjadi kata kunci ketika mereka sudah berada dalam kelompok teroris. Sejumlah penelitian mengungkapkan, para perempuan yang direkrut dalam jaringan tersebut didoktrin setiap saat dengan pandangan keislaman yang radikal.

Mereka dijejali dengan narasi-narasi Islam tertindas, tentang romantisme kejayaan Islam masa khilafah. Tentang wajibnya mendirikan negara khilafah yang akan membebaskan mereka dari ketidakadilan dan kemiskinan. Mereka juga didoktrin dengan kisah-kisah figu3q1r perempuan pemberani dalam sejarah Islam. Wajibnya menegakkan syariat Islam dan pentingnya menghapus demokrasi dan negara Pancasila yang mereka juluki sebagai thagut (musuh Islam).

Mengapa perempuan?

Seperti dibahas dalam isu feminisme, perempuan adalah kelompok yang paling diandalkan soal kesetiaan dan kepatuhan. Seperti halnya Rabi’ah seorang pecinta yang setia terhadap yang Maha Realitas Tunggal. Perempuan sangat bersahabat dengan agama meski agama seringkali tidak ramah terhadap mereka. Dan yang paling meyakinkan adalah perempuan mampu menjadi benteng pertama yang melindungi keluarga jika terjadi hal-hal tak diinginkan.

Menarik disebutkan, umumnya mereka bukanlah perempuan bodoh dan tidak terdidik. Kebanyakan mereka lulusan perguruan tinggi, selebihnya lulusan pesantren dan sekolah menengah atas. Lalu dari aspek ekonomi, mereka tidak selalu dari kelompok miskin. Umumnya mereka dari kalangan menengah. Profesi mereka pun beragam: dosen, guru, muballighah, ustadzah, dll.

Motivasi utama perempuan terlibat dalam gerakan ini adalah bersifat teologis. Mereka mulanya terpapar pemahaman keislaman yang radikal, misalnya memercayai wajib hukumnya membunuh orang-orang kafir, (non-Muslim). Mereka meyakini wajib menegakkan negara Islam dengan melakukan jihad menumpas ketidakadilan. Perempuan harus ikut berjihad membela Islam dan Muslim yang tertindas.

Apa yang Harus Dilakukan Perempuan?

Upaya untuk mengatasi hal ini harus dimulai dari diri sendiri dan mengukur seberapa jauh pemahaman terhadap agama. Perempuan bisa menjadi agent of disengagement. Kalau mereka bisa direkrut menjadi teroris seharusnya lebih mudah mengajak mereka menjadi agen perdamaian. Hal paling penting adalah mereka yang mengenal Tuhan telah mengembangkan akalnya.

Namun, akal dan pengetahuan saja tidaklah cukup. Banyak orang yang kaya ilmu pengetahuan, namun kecerdasan mereka hanya digunakan untuk melayani ego mereka. Kearifan sejati dan pemahaman spiritual adalah secercah cahaya yang Tuhan pancarkan di lubuk-hati-terdalam. Ia memancar bagaikan lampu yang membuat kita mampu melihat dengan jelas. Bagi mereka yang tidak beriman, cahaya ini tertabiri.

Diantara kaum beriman terdapat perbedaan tingkat pemahaman. Mereka hanya memiliki pengetahuan luar, hanya akan memahami bentuk luar agama. Sebagai contoh, kita bisa saja mengetahui makna literal kitab Injil, dan menjadikan makna dalam tingkatan ini sebagai hukum. Mereka yang memiliki pengetahuan batiniah, memahaminya dengat hati.

Dengan demikian, mereka memahami makna simbolik yang berada dibalik bentuk luar praktek keagamaan, serta makna simbolik yang lebih dalam pada ayat kitab-kitab tersebut. Pengetahuan batiniah adalah pemahaman dari tahapan yang lebih dalam dari hati. Ia memengaruhi keseluruhan hidup orang manusia termasuk perempuan.

SHARE
Previous articleIbu Cerdas, Tameng Radikalisme Usia Dini
Next articleISLAM DAN DAMAI
Membaca - Berbagi - Mendengarkan - Menulis Setiap Agama itu mempresentasikan ke Satu Realitas Tunggal. Yakinlah! #damaiituindonesia Instagram: @rizqiahlaf Twitter: @ahlaFR Facebook: Rizqi Ahla Firdausi Email: rizqiahlaf@gmail.com Website: jejakpencinta.blogspot.id