Ibu Cerdas, Tameng Radikalisme Usia Dini

0
263

Menjadi seorang ibu hari ini tak hanya dituntut bisa mendidik buah hati dengan baik. Tapi juga diterpa tantangan yang kian beragam seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan teknologi. Ibu dituntut lebih cerdas dari sang anak, bahkan harus menjadi orang nomor satu yang serba tahu tentang semua aktivitas buah hatinya di dunia maya agar tidak “kecolongan”.

Jika dulu ibu bisa dengan mudah mengawasi anak bermain di halaman rumah. Kini tak sedikit ibu kesulitan melacak situs apa saja yang dibuka sang anak hari ini, game apa saja yang dimainkan, sampai chat dengan siapa saja dan apa yang diperbincangkan sang anak. Kemudahan akses internet dan fitur penggunaan gadget tak pelak menjadi peluang bagi anak untuk mengelabuhi orang tua, terlebih ketika ibu tidak benar-benar mengawasi.

Bahayanya, penyebaran pesan radikalisme dan terorisme via internet kini tak lagi mengenal usia. Terutama kelabilan anak yang beranjak remaja, menjadi salah salah satu sasaran empuk para teroris untuk beraksi di dunia maya. Karenanya, perlu kiat khusus agar ibu, sebagai tameng buah hati, cerdas dalam menangkal serangan radikalisme di dunia maya. Berikut langkah-langkahnya:

Ibu sebagai Kontrol Anak di Rumah

Bu, rumah adalah tempat yang paling sering menjadi tujuan anak, dimana anak dibesarkan, dibimbing, dan disanalah tempat ia berlindung saat ia kehilangan arah. Rumah merupakan tempat ternyaman bagi buah hati, disana ia bias menemukan anggota keluarganya, disana ia bias menemukan belaian seorang ibu, dan didikan dasar dari seorang ibu, yang kelak akan digunakan dimasa depan. Maka mulailah dari rumah bu, mulailah mengawasi lebih dekat dengan anak.

Mengajak anak untuk sering bercerita tentang apa-apa saja yang telah dilakukan di luar rumah menjadi faktor penting yang nantinya membentuk kepribadian anak, dan mempermudah kita dalam mengntrol kegiatannya. Pada dasarnya seorang anak cenderung memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi terhadap suatu hal, sehingga terkadang muncul perbedaan pendapat yang berujung pada keputusasaan anak atau ngambek. Perpecahan seperti ini hanya akan menciptakan celah yang akan digunakan jalan masuknya radikalisme pada anak, anak akan menjadi liar seiring dengan berjalannya waktu.

Bu, mari berpikir cerdas. Mari kita arahkan keingintahuan anak yang berbeda dengan persepsi kita kearah yang lebih baik. Jika anak menginginkan A sedangkan pandangan kita terhadap A tersebut kurang baik, kita tidak perlu berdebat dengan anak, kita tidak perlu langsung menyetujuinya juga. Lalu bagaimana? Suruh si kecil untuk berpendapat terlebih dahulu, dan hargai pendapatnya, kemudian setelah menelaah ternayta pendapatnya kurang tepat, jangan langsung menjudge ‘salah’, justru dengan adanya kita sebagai ibu harusnya kita membimbingnya ke jalan yang benar, bukan memotong jalannya.

Selain hal-hal diatas, hal lain yang menjadi control wajib seorang ibu dirumah ialah apa yang anak tonton di televisi dan buku bacaan apa yang ia baca. Salah satu kemampuan anak yang wajib kita waspadai ialah kemamuan meniru dengan sangat baik. Apa yang ia tonton di televisi sebisa mungkin dikontrol dengan baik, hindari channel-channel kekerasan dan radikal.

Ibu sebagai Kontrol Anak di Sekolah

Bu, ketika anak berangkat sekolah itu artinya ia melepaskan ‘borgol’ yang kita pasang pada tangannya, kita tidak bisa memantau bagaimana pergaulannya disekolah. Kita tidak bisa lagi mengarahkannya secara langsung. Jangan khawatir bu, guru-guru disekolah yang akan menjadi pengganti kita nantinya. Tentunya ibu lebih tahu sekolah mana yang berkompeten untuk mendidik anaknya. Ibu bisa tetap melakukan control melalui buku-buku pelajarannya, apa yang guru berikan, tugas yang diberikan guru dan masih banyak lagi.

Ibu sebagai Kontrol Pergaulan Anak

Teman, bagi buah hati kita merupakan hal baru yang sangat menyenangkan. Ia ikut kemanapun anak kita pergi dan ia juga lah yang menjadi pembentuk kepribadian anak di luar rumah. Teman dapat menjad musuh ataupun sahabat anak kita. Terkadang ketika anak pulang dari rumah temannya ia akan mengeluarkan kata-kata baru yang belum pernah kita dengar sebelumnya dirumah. Coba ajak dia bicara baik-baik, ambil hatinya, lalu perbaiki apa yang ia dapatkan dari rumah temannya. Dengan cara seperti ini bukan ia yaga kan terpengaruh oleh temannya tapi malah temannya lah yang akan menjadi baik pula.

Ibu sebagai Kontrol Semua Kegiatan Anak

Bu, alaminya seorang anak bermain bersama teman-temannya diluar sana. Ya, di tempat di mana radikalisme sangat mudah ditemui. Namun jangan mengurung anak dirumah sepertit sapi, biarkan dia bebas, bebas disini dalam arti bebas terkontrol. Bekali anak dengan aturan main diluar rumah, bekali dengan pelajaran hidup. Namun dengan semua pelajaran yang kita berikan, jangan juga menjadikan anak kaku dengan lingkungan sekitarnya. Biarkan dia hidup dengan mengenal dunianya, bekali dengan agama, bahkan agama saja tidak cukup, bekali juga dengan nalar yang cerdas agar ia mampu membedakan yang haq dan yang batil.

Ibu sebagai Kontrol Permainan Anak

Permainan anak di era globalisasi saat ini  tidak hanya permainan bersama teman-temannya, namun juga game-game online yang berbau radikalisme dan terorisme. Seperti game pemburu teroris, pembunuhan dan masih banyak lagi. Dari game-game tersebut tahap awalnya anak akan sering memainkannya sampai ia berhasil memecahkan score. Kemudian akan diikuti dengan ucapan-ucapan dari mult anak kita yang menirukan bunyi-bunyi tembakan dan bom jatuh. Setelah tahap ini anak akan lebih ekspresif dengan minta dibelikan tembak-tembakan dan masih banyaik lagi. Jika ibu tidak mengarahkan dengan benar, maka tahapan yang dilewati si kecil akan lebih besar dan lebih radikal.

Arahkanlah, Bu, arahkan ia pelan-pelan dengan komunikasi, jadilah pendengar yang baik akan pendapatnya, jadilah manusia paling bijak didepannya dan jadikanlah ia pemberi inforamasi yang baik. Dengan begitu, anak akan merasa lebih terbuka kepada ibunya, dengan bersikap lebih terbuka, radikalisme dini dapat ditangani dengan lebih mudah.

Bagaimana, Bu? Siap jadi ibu cerdas yang melindungi buah hati dari serangan radikalisme?

SHARE
Previous articleGerakan Perempuan dalam Meretas Radikalisme
Next articleRabi’ah dan Perempuan Akhir Zaman
Namaku Aprillia Eka Andriani. Aku merupakan salah satu mahasiswi yang ingin mengembangkan skill dibidang publikasi. Dengan mengembangkan skill publikasi ini saya akan membawa perdamaian di Indonesia.