Tuhan dan Indonesia

0
117

Oleh: Rizqy Ahla

Tuhan tidak pernah membuat manusia menderita dalam hidupnya. Ini bukan hanya untuk orang-orang tertentu. Semua manusia tak pernah dan tak akan dianiaya Tuhan. Bahkan dalam Al Qur’an disebutkan, jika manusia berbuat kebaikan sekecil apapun, Allah akan melipatgandakannya. Faktor ini lah yang membuat manusia dapat menyempurnakan dirinya, karena Tuhan berperan menjadi fasilitator terhadap manusia.

Begitu pun di Indonesia yang kaya akan suku dan budayanya. Kita sebagai agent of change yang akan menentukan sebuah perjalanan baru pada Indonesia. Hanya dengan cinta dan yang akan menciptakan kedamaian di muka bumi ini. Tapi cinta yang mana?

Cinta kepada bangsa dan negara itu sudah menjadi keniscayaan dan memang harus terhubungkan dengan Tuhan. Karena, Tuhan adalah kebenaran. Cinta tak dapat dipisahkan dari kebenaran, kasih sayang, dan kemurahan. Cinta demikianlah yang tak akan pernah patah. Cinta yang demikianlah yang akan membawa ke keabadian. Cinta yang demikianlah yang mengekalkan kehidupan jiwa.

Gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, banjir bandang, dan berbagai bencana alam lainnya terjadi oleh kelakuan negatif dari manusia. Kelakuan negatif menyebabkan energi negatif kosmos, sehingga terjadi ketidakseimbangan alam. Inilah yang menyebabkan kerusakan pada ciptaan Tuhan. Kondisi yang jika tidak dijaga keseimbangannya dapat menimbulkan petaka.

Dalam sebuah ungkapan, imam Malik pernah berkata, “Umat ini tidak akan jaya kecuali dengan cara pertama kali ia dijayakan generasi awalnya.” Artinya banyak sekali referensi yang layak untuk dijadikan pedoman untuk mencapai kejayaan. Para pendahulu kita, bapak proklamator Ir. Soekarno adalah contoh yang nyata. Sungguh sangat aneh jika kita telah memiliki sosok tauladan yang hebat justru kemudian kita terjebak dengan sistem rusak pada diri kita hingga melupakan mereka semua.

Bangsa Indonesia terlahir dari sebuah kesepakatan dan cita-cita luhur yang menjunjung nilai-nilai egaliter baik berbangsa maupun bernegara. Pemuda itulah ikon dan penggagas negeri ini yang di awali tokoh muda bapak Soekarno dan Hatta. Pemuda hari ini perlu mengembangkan sikap inovatif untuk menyongsong masa depan Indonesia dalam mempersiapkan generasi emas 100 tahun kedepan. Jadilah pemuda-pemudi yang penuh inspiratif.

Mari mulai dari diri kita, kenali diri kita, lalu cintai diri kita, dari diri kita yang positif akan terlahir jati diri yang baik. Bangsa yang baik ialah bangsa yang memiliki jati diri, dan tidak terprovokasi oleh fanatik buta.

 

Ilustrasi: dok. aku.dutadamai.id