Keniscayaan Toleransi

0
175

Oleh: Deden Sofyan

Kasus intoleransi yang tercatat oleh Wahid Institute pada tahun 2011, terdapat 92 kasus kekerasan atas nama agama. Di tahun 2012, Denny JA dan LSI menyebutkan sebanyak 15-80% publik Indonesia merasa tidak nyaman jika hidup berdampingan dengan orang yang berbeda identitasnya. Ironisnya, lebih dari 20% publik Indonesia setuju dan membenarkan penggunaan kekerasan dalam menegakkan  dan memaksakan prinsip agama.

Tahun 2016 Komnas HAM  menyampaikan laporan tentang kondisi kebebasan beragama dan berkeyakinan di ruang Pengaduan Komnas HAM pada 9 Januari 2017. Dalam laporan tahunannya, Ketua Komnas HAM Imadadin Rahmat menyampaikan adanya peningkatan kasus intoleransi atas kebebasan beragama dan berkeyakinan. Sepanjang 2016, berdasarkan pengaduan yang diterima Komnas HAM, tercatat ada 97 kasus. Data ini meningkat, karena pada 2014 tercatat ada 76 kasus dan 87 kasus pada 2015.

Bila data tahun 2011 dengan 2016 dibandingkan, maka kasus intoleransi terlihat meningkat meskipun disela-sela tahun tersebut sempat menurun. Bisa disimpulkan, bahwa tindakan intoleransi semakin meningkat secara kuantitatif. Artinya, kesadaran masyarakat terhadap nilai toleransi masih rendah.

Intoleransi pada dasarnya merupakan tindakan yang bersebrangan dengan prinsip bhineka tunggal ika. Jika bhineka tunggal ika menjelaskan berbeda-beda namun satu tujuan, sedangkan intoleransi, yang beda semakin dibedakan bahkan didiskriminasikan. Intoleran diartikan sebagai tidak tenggang rasa atau tidak menghargai. Secara istilah, tidak menghargai perbedaan yang ada, baik suku, budaya, kepercayaan, agama dan lain-lain.

Intoleransi apabila dibiarkan begitu saja, tentu akan merapuhkan kesatuan bangsa. Masyarakat akan merasa tidak aman karena takut dengan suku lain atau kepercayaan lain. Jika rasa aman sudah hilang, maka kedamaianpun tidak bisa dijamin lagi adanya. Padahal masyarakat beragama tidak akan merasa tenang dalam beribadah apabila kondisi bangsa tidak aman dan damai.

Sudah jadi maklum bahwa bangsa kita memiliki banyak keragaman. Bangsa kita bisa berdiri kokoh hanya karena diperjuangkan oleh banyak tokoh yang berbeda suku, ras dan agama. Perjuangan tersebut menyimbolkan bahwa apabila keragaman ini bersatu maka akan menciptakan sesuatu yang besar.

Kurang pintar apa mereka? Kurang paham apa mereka tentang agama?

Tapi ternyata mereka bisa bersatu dan saling menghargai atas keragaman. Tentu hal tersebut  merupakan contoh sempurna dalam bermasyarakat. Kehidupan bermasyarakat adalah bergerak bersekutu dan terikat dalam sebuah prinsip kebangsaan. Tidak bisa dikatakan bermasyarakat apabila tidak bersekutu, dan tidak bersekutu apabila tidak saling terikat.

Keterikatan atau merasa terikat antar sesama masyarakat merupakan keharusan apabila ingin hidup bermasyarakat. Namun keterikatan tidak akan pernah bisa terwujud bila hubungan antar masyarakat didasari dengan rasa atau tindakan intoleransi.  Secara tegas bisa dikatakan, hidup bermasyarakat harus toleran.

Bersifat dan bersikap menghargai pendirian yang berbeda dengan diri sendiri menjadi inti dari toleransi. Menghargai pemikiran orang lain tidak identik dengan sepakat dengan pemikiran orang lain. Menghargai kepercayaan orang lain juga tidak berarti bahwa kita sepakat dengan kepercayaan orang lain. Tapi menghargai di situ, mengandung konotasi sadar hidup bersama dengan penuh keragaman. Sebagai seorang individu yang memiliki pendapat tertentu, ini tidak memestikan bahwa pendapatnya diterima oleh individu yang lain.

Karenanya, agama Islam sering menyebutnya dengan kata dakwah yang berasal dari bahasa arab da’a-yad’u yang artinya memanggil atau mengajak. Perkara orang yang diajak itu mau atau tidak, itu hak mereka, tidak ada paksaan. Di samping itu, pendapat merupakan buah pemikiran yang didapat dari mempersepsi dan mengkonsepsi sesuatu.
Contoh, karena kita mempersepsi bola itu bundar dalam kenyataannya, maka kita akan berpendapat bahwa bola itu bundar. Misal ada yang mengatakan bahwa bola itu bidangnya kasar, tentu kita juga tidak akan menyatakan pendapat tersebut salah. Karena dari sisi yang lain ternyata memang benar bahwa bola itu memiliki bidang yang kasar.

Dari contoh tersebut, penulis ingin mengatakan bahwa persepsi itu terbatas. Sudut pandanglah yang membatasinya.  Oleh karena pendapat itu bermula dari persepsi, dan persepsi sifatnya terbatas. Maka, tidak ada kemestian pendapat itu dipaksakan kepada orang lain, karena bisa jadi orang lain memiliki persepsi yang berbeda hanya karena dia juga memiliki sudut pandang yang berbeda.

Toleransi adalah kesadaran terhadap perbedaan. Bermasyarakat adalah hidup bersekutu dengan yang lain. Hidup bermasyarakat adalah hidup dengan penuh perbedaan, karena setiap individu memiliki pendapat dan prinsipnya masing-masing. Bila ingin bermasyarakat, maka niscaya kita harus toleran.

 

Ilustrasi: dok. aku.dutadamai.id