3 Cara Asik Cegah Bahaya Media Sosial Pada Anak

0
179

Oleh: Ilman Nafian

Media sosial bak dua sisi mata uang yang bertalian, tergantung bagaimana pengguna memanfaatkannya. Era digital dewasa ini sudah tidak bisa dibendung lagi. Ihwalnya, informasi apapun dapat dibuka dengan mudah melalui gawai yang ada di tangan, serasa dunia dalam genggaman. Meski begitu, akses tersebut tidak bebas nilai, ada sisi emergency sosial yang selalu mengintai.

Ancaman yang paling nyata adalah radikalisasi. Merujuk survei yang dilakukan BNPT terdapat 64,7% remaja yang bermain media sosial, menghabiskan 181 menit per hari dengan gawainya, artinya ancaman generasi milenial begitu signifikan.

Masih ingat dengan kasus teror bom gereja di Medan, Sumatera Utara yang terjadi pada Agustus 2016 lalu? Menurut penyidik, pelaku teror, Ivan yang masih berusia 18 tahun dan notabenenya rajin beribadah, terdoktrin terorisme melalui dunia maya. Hingga ia menjauhkan diri dari lingkungan, dan menghabiskan waktunya di depan komputer milik kakaknya.

Peristiwa ini menjadi salah satu bukti betapa radikalisme yang berakhir pada tindakan teror bisa disebarkan melalui media sosial. Selain target orang dewasa, usia anak-anak yang menggunakan internet tanpa pengawasan, jauh lebih berbahaya. Untuk itu, perlu cara jitu dan peran orang tua untuk menghadapi bahaya sosial media yang akan mengancam anak. Berikut 3 cara untuk mencegah bahaya dahsyatnya media sosial pada anak.

Cara pertama, dampingi dan berikan ruang tanya jawab

Orang tua seyogyanya mendampingi anaknya dalam berselancar di dunia maya, jangan sampai terjebak pada situs-situs yang tidak memberikan kontribusi positif, malah memberikan dampak yang negatif, ini yang harus kita hindari sejauh mungkin. Orang tua dan anakpun dapat merekatkan hubungannya dengan lebih intens, karena dengan kedekatan inilah masalah apapun yang berkaitan dengan sosial media dapat teratasi dengan mudah.

Tanya jawab pun acapkali jarang dilakukan oleh orang tua, padahal dengan melakukan rutinitas semacam ini orang tua mampu memudahkan mencari jati dirinya dengan baik, dapat pula mendiagnosa permasalahan sejak dini. Ini minus dilakukan oleh orang tua, biasanya orang tua canggung untuk melakukan tanya jawab pada anak dan anakpun enggan untuk menceritakan apa saja yang dilakukan di depan laptop atau gawainya, inilah bahaya besar sedang mengintai anak kamu. Oleh karena itu, kebiasaan positif ini harus dimulai sejak dini, kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Kedua, berikan nama-nama website yang memiliki konten positif

Menghadapi zaman serba canggih ini, diperlukan cara yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua diharuskan aktif mengedukasi anaknya dengan memberikan konten positif. Bila anak menerima informasi yang negatif, dikhawatirkan menduplikat informasi yang diterimanya, bila tidak ada filter yang bagus, anak akan menentukan sendiri, tanpa melihat apapun dampaknya.

Langkah ini perlu dicoba, mengingat bahaya sosial media begitu kencang didengungkan. Kita pun sebagai orang tua, harus kencangkan niat untuk menangkal bahaya laten dari sosial media.

Ketiga, kontrol anak setiap waktu

Sosial media begitu rentan memengaruhi pola pikir anak, dengan adanya kontrol pada anak, ini upaya dini untuk menangkal bahaya apapun yang dikonsumi dari media sosial. Mudahnya mengakses sosial media, menjadi tantangan berat bagi orang tua dalam mendidik anaknya masa kini.

Ada bahaya nyata yang mengintai anak kita, kontrol sedini mungkin, mumpung belum telat! Sesaknya konten negatif di media sosial, harus menjadi pelajaran penting untuk orang tua dalam menyikapi keadaan seperti ini.
Masih banyak cara lain yang dapat kita lakukan. Setidaknya cara di atas bisa diaplikan oleh orang tua dalam menangkal bahaya laten demi masa depan anak-anak. Media sosial menjadi ajang “perang” untuk mendapatkan pengaruh di ranah maya. Karenanya, dibutuhkan kecerdasan orang tua dalam menghadapi bahaya sosial media pada anak.

 

Ilustrasi: dok. aku.dutadamai.id